WAKATOBI, SULTRKUNEWS.COM – Ada pemandangan tak biasa di jembatan penghubung Desa Horuo dan Desa Mantigola, Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, pada Jumat (10/7/2026). Puluhan warga berkumpul, bukan untuk berdemonstrasi, melainkan memegang sekop, mengangkat batu, dan mengaduk semen.
Di tengah keterbatasan anggaran daerah, mereka memilih berhenti mengeluh dan mulai bergerak bersama.
✓ Swadaya dari Semua Lini
Menolak pasrah pada keadaan, warga dari dua desa ini sepakat mengambil langkah inisiatif. Perbaikan jembatan ini sepenuhnya didanai dari kantong masyarakat sendiri melalui sistem patungan, termasuk sumbangan dari pihak sekolah (SD dan SMP) serta para donatur luar yang peduli.
“Patungan sesama warga dan pihak sekolah, SD, dan SMP. Ada juga donatur lain seperti orang darat yang punya mobil ikut andil dalam sumbangan berupa semen,” ujar Kepala Desa Horuo, Bambang Muliadi, Sabtu (11/7/2026).
✓ Mak-Mak Ikut Ambil Andil
Aksi sosial ini kian menarik perhatian karena tidak hanya didominasi oleh kaum pria dan aliansi mahasiswa. Barisan “mak-mak” setempat turut turun tangan ke lapangan.
Dalam rekaman video yang beredar, emak-emak ini terlihat tangguh memindahkan material batu dari perahu ke sisi jembatan. Kehadiran mereka menjadi suntikan semangat luar biasa bagi warga yang sedang bekerja.
Memangkas Titik Rawan Kecelakaan
Fokus utama dari perbaikan ini adalah membenahi bagian box culvert hasil proyek tahun 2025. Posisi strukturnya dinilai terlalu tinggi, sehingga menjadi titik rawan yang kerap membahayakan pengendara roda dua maupun roda empat yang melintas.
Pemerintah desa dan masyarakat khawatir, efisiensi anggaran yang sedang dihadapi pemerintah daerah tahun ini akan membuat kelanjutan proyek jembatan tersebut terbengkalai.
✓ Demi Masa Depan Anak Sekolah
Jembatan Horuo–Mantigola merupakan urat nadi penting bagi mobilitas warga setempat. Jalur ini menjadi akses utama menuju:
• SDN Mantigola & SMPN Satap Mantigola
• Fasilitas TK/PAUD
• Pasar Rakyat Horuo/Mantigola
Meski aksi swadaya ini sukses melonggarkan kecemasan warga, Bambang Muliadi menegaskan bahwa pihak desa tidak akan tinggal diam. Usulan perbaikan permanen untuk jalan dan jembatan ini dipastikan akan tetap dikawal ketat dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan hingga kabupaten sepanjang tahun 2026 ini.
Report: Henky S,Ars