Pengelola SPPG Watubangga Mengaku Lalai Usai 57 Santri di Kendari Keracunan Menu MBG

Pengelola SPPG Watubangga Mengaku Lalai Usai 57 Santri di Kendari Keracunan Menu MBG

KENDARI, SULTRAKUNEWS.COM — Pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Watubangga, Kota Kendari, menyampaikan permohonan maaf terbuka atas insiden keracunan yang menimpa 57 santri Pondok Pesantren Al-Askar. Puluhan santri tersebut mendadak mengeluhkan keluhan fisik berupa mual hingga pusing hebat beberapa saat setelah mengonsumsi santapan program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Pernyataan permohonan maaf dan evaluasi internal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala SPPG Watubangga Kendari, Sabdi Rasyid, saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD Kota Kendari pada Selasa (22/9/2026). Di hadapan para wakil rakyat, Sabdi secara terbuka mengakui adanya celah kelalaian timnya dalam mengontrol kualitas bahan baku makanan yang diolah untuk para santri.

• Abaikan SOP Rantai Dingin pada Bahan Ikan

Berdasarkan penelusuran dan analisis internal yang dilakukan pengelola, titik krusial kesalahan terjadi pada tahap penanganan bahan baku ikan sejak awal kedatangannya di dapur SPPG. Pengelola kedapatan melanggar ketentuan prosedur operasional standar (SOP) terkait penjagaan rantai dingin (cold chain) yang sangat vital untuk mencegah pembusukan dan pembentukan racun pada produk perikanan.

“Kalau terkait SOP itu, saya melakukan analisa memang ada kelalaian pada saat penerimaan bahan baku. Dari gabus kami pindahkan ke wadah stainless dan di situ cuma dibaluri es batu saja,” ungkap Sabdi di hadapan pimpinan dan anggota DPRD Kota Kendari.

Sabdi menjelaskan, bahan baku ikan yang tiba awalnya dikemas rapi dalam wadah gabus (styrofoam) yang mampu menahan suhu dingin dengan stabil. Namun, petugas lapangan justru memindahkan ikan-ikan tersebut ke wadah berbahan stainless steel dan hanya menimbunnya secara ala kadarnya menggunakan es batu.

Sesuai aturan SOP, suhu dingin bahan pangan berprotein tinggi seperti ikan wajib dijaga secara konstan tanpa terputus, mulai dari titik penerimaan, penyimpanan, hingga tahap pemrosesan awal. Pemindahan ke wadah stainless steel tanpa sistem pendinginan yang memadai membuat es cepat mencair dan suhu ikan meningkat drastis. Hal inilah yang diduga kuat memicu penurunan kualitas bahan baku hingga berujung pada timbulnya gejala keracunan massal pada puluhan santri Pondok Pesantren Al-Askar.

Editor. Harys
Redaksi: Henky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait: