KENDARI, SULTRAKUNEWS.COM — Peta kerentanan penyebaran Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Sulawesi Tenggara (Sultra) bergeser tajam. Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sultra mengonfirmasi adanya lonjakan kasus baru yang kini tidak lagi didominasi oleh jalur prostitusi konvensional, melainkan dari aktivitas hubungan sesama jenis (homoseksual).
Berdasarkan hasil penapisan (screening) medis yang dilakukan secara intensif sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026, akumulasi kasus HIV di Sultra melampaui proyeksi awal. Target penapisan yang mulanya menyasar 600 orang justru mengidentifikasi hampir 900 kasus positif. Dari total temuan tersebut, kelompok homoseksual menyumbang angka penularan tertinggi, yakni berkisar antara 30 hingga 40 persen.
Kadinkes Sultra, dr. Andi Edy Surahmat, M.Kes, menegaskan bahwa perubahan dinamika ini memerlukan penanganan responsif yang tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pada pemutusan rantai penularan di komunitas berisiko tinggi.
✓ Strategi Penanganan dan Langkah Pencegahan
Menanggapi fenomena pergeseran epidemiologi ini, Dinkes Sultra menerapkan serangkaian langkah strategis:
• Edukasi Multidimensi: Memperluas jangkauan sosialisasi kesehatan reproduksi dan bahaya HIV/AIDS dengan menggandeng praktisi medis serta tokoh agama. Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman komprehensif dari kacamata medis sekaligus penguatan nilai-nilai moral dan spiritual.
• Penjangkauan Digital dan Komunitas: Mengoptimalkan ruang komunikasi langsung maupun platform media sosial guna menjangkau kelompok berisiko yang cenderung tertutup (hidden population).
• Pengawasan Wilayah Industri dan Transit: Memperketat screening kesehatan bagi tenaga kerja pendatang. Tinggi mobilitas penduduk di wilayah pusat pertambangan serta kota transit utama seperti Kendari dan Baubau dinilai menjadi faktor krusial dalam laju persebaran virus.
✓ Gejala Umum dan Imbauan Deteksi Dini
Dinkes Sultra terus mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan dan individu dengan tingkat mobilitas tinggi, untuk memanfaatkan fasilitas pemeriksaan dini (VCT/Voluntary Counseling and Testing) yang tersedia di puskesmas maupun rumah sakit daerah.
Catatan Medis: Tahap awal infeksi HIV sering kali tidak menunjukkan gejala berat atau menyerupai flu biasa (seperti demam berkepanjangan, pembengkakan kelenjar getah bening, dan kelelahan kronis). Deteksi dini sangat penting agar penanganan terapi Antiretroviral (ARV) dapat segera diberikan untuk menekan laju perkembangan virus dan mencegah tahap AIDS.
Editor: Henky